antara (chapter 1)

Bagian Satu
(Kota Impian)




sebuah taksi putih tertahan dijalan raya yang dipenuhi sesak mobil yang sudah seperti susunan balok yang tidak beraturan. sesekali terdengar klakson dari taksi tersebut yang disusul suara klakson dari beberapa mobil lainnya berharap mobil-mobil didepan mereka bergerak walaupun hanya beberapa centi. pemandangan seperti ini memang bukan hal yang mengherankan didaerah ibukota ini karena hampir tiap hari pengguna jalan dihadapkan pada permasalahan yang sama yang membuat mereka malas bepergian.
" heran deh, tiap hari macet gimana bisa nyari duit yang banyak kalo begini orang Cuma kelamaan dijalan " gerutu pengemudi taksi dengan kesal. Ia memukul stir didepannya lalu membunyikan klaksonnya sekali lagi. matanya yang bulat semakin dipelototkan hingga nyaris mencuat keluar. kulitnya yang hitam membuat kesan galak ketika pertama kali melihatnya.
" ada apaan sih didepan " supir taksi itu mendongakkan kepalanya keluar jendela berusaha melihat sesuatu yang membuat jalan didepannya macet. namun beberapa kalipun ia melihat yang nampak cuma susunan tak beraturan dari kendaraan lainnya.
“ gini nih mas, Jakarta emang nggak ada harapan “ cerita supir taksi itu kepenumpangnya namun tak ada tanggapan apapun.
sementara sang supir malah sibuk menggerutu, seseorang yang duduk dijok belakang malah asik menatap selembar kertas ditangannya. beberapa kali dia memainkan kertas itu. membolak-balik hingga berulang kali lalu menyusuri setiap huruf yang ditulis dengan tulisan miring khas milik ayahnya.
hari ini merupakan hari pertama rafa menginjakkan kakinya di daerah ibukota ini. lebih tepatnya baru sekitar 3 jam yang lalu dia sampai di jakarta. dulu ia pernah menjadikan kota ini sebagai kota impiannya, berharap ketika sma papa dan mama mengirimnya kesini lalu dengan bangga ia akan bercerita pada semua orang kalo ia akan melanjutkan sekolah ke ibu kota. ekspektasi tentang ibu kota bukan begitu saja muncul di kepala rafa tapi karena berbagai cerita yang didengar dari temannya tentang dufan, ancol, bagaimana sekolah-sekolah bertaraf internasional yang ada disana, dan berbagai kemudahan yang bakal ia dapatkan jika berada di ibu kota beda dengan di makassar yang perkembangannya begitu-begitu saja. namun ternyata semua cerita itu tak seindah yang rafa lihat saat ini. kota ini tak ubahnya seperti makassar bahkan lebih semraut dan tak teratur baik dari segi lalu lintas maupun sistem penataan kotanya. namun walaupun tempat ini terlihat lebih kacau dibanding kota tempat dia tinggal sebelumnya setidaknya itu lebih baik dibanding dia harus tetap berada ditempat itu.
berulang kali rafa sudah mencoba untuk bisa meninggalkan tempat terkutuk itu tapi selalu saja gagal. ayah dan ibunya terlalu takut untuk melepasnya sendiri. mereka semua terlalu berlagak dan sok melindungi padahal rafa tau mungkin mereka semua sekarang tengah bersorak gembira karena melihatnya pergi.
" udah nyampe mas " ucapan supir taksi menyadarkan rafa dari lamunannya. ia baru sadar kalo kini taksi yang dinaikinya telah benar-benar berhenti dan tak ada lagi suara hiruk pikuk kendaraan berlalu lalang termasuk suara keluhan sang pengemudi yang sejak tadi terus memenuhi seluruh perjalanannya.
" ini tempatnya pak ? " rafa memandang sebuah rumah berwarnah cream tepat dihadapannya. rumah itu terlihat sepi, sebenarnya bukan hanya rumahnya saja yang nampak sepi tapi seluruh jalan disekitar rumah ini juga sangat sepi. tak ada seorangpun yang terlihat. dipinggir jalan hanya terparkir beberapa mobil.
" iya " supir taksi itu mengangguk yakin sambil ikut memperhatikan rumah yang menjadi tujuan penumpangnya.
rafa terdiam sejenak memastikan rumah yang dihadapannya memang rumah yang dimaksud. Berulang kali ia harus memandang rumah dan kertas ditangannya secara bergantian. setelah membayar taksinya. rafa mendekati rumah itu dengan ragu. menyampirkan satu tali tas ranselnya disebelah tangan lalu memencet bel berulang kali hingga seseorang kini berjalan kearahnya.
" nyari siapa mas ? " seseorang cewek yang kira-kira seumuran dengannya bertanya ramah dari balik jeruji pagar hitam yang menjulang tinggi.
" arisandi dirgantara " seru rafa singkat
" papa belum pulang kerja " kata cewek itu dengan senyum ramah " ada pesan ? "
" boleh nggak gue masuk dulu dan elo nggak usah banyak nanya " rafa menatapnya sinis. membuat seketika senyum ramah cewek itu langsung hilang. ekspresinya berubah jadi kaku. lalu menatap rafa lekat. rafa paling tidak suka jika seseorang terlalu banyak bertanya pada dirinya. lagian apa susahnya orang didepannya ini membuka pintu untuknya toh ini memang rumah orang yang dicarinya. Pikir rafa.
melihat cewek itu bergeming dari tempatnya, rafa bergumam " kenapa ? elo takut sama gue ? atau elo budek mungkin ? " cecarnya
" sorry  gue nggak bisa bukain pintu sama orang asing kayak lo " jawab cewek itu dengan intonasi suara menantang. baru saja dia hendak kembali masuk ke rumahnya saat rafa kembali berbicara.
" gue cerafa wirawan " rafa memperkenalkan namanya. ia tahu cewek itu tak akan mau membuka pintu untuknya jika ia terus bersikeras. untuk ukuran normal seseorang memang tak akan mungkin mau membukakan pintu untuk orang asing yang tak pernah kita lihat sebelumnya terlebih jika orang itu mengeluarkan gelagat seperti yang ia lakukan.
cewek itu berbalik menatap rafa, untuk sepersekian detik dia membatu. mungkin mencoba mengingat-ingat apa mereka pernah bertemu atau paling tidak mungkin pernah mendengar nama rafa sebelumnya.
" elo anaknya om wirawan yang dari makassar itu ? " cewek itu bertanya ragu. matanya yang sedikit sayu menatap rafa seksama.
baru saja rafa hendak menjawab sebuah mobil chevrolet silver mengklakson dari arah belakangnya. rafa berbalik sejenak untuk melihat orang itu tapi pantulan cahaya matahari membuat matanya sakit hingga akhirnya ia memutuskan untuk memutar kembali tubuhnya menghadap anak perempuan tadi.
" rafa " tiba-tiba terdengar suara berat dari arah belakang sebelum rafa menjawab. rafa berbalik sekali lagi. seorang pria separuh baya tengah berdiri dihadapannya dengan senyum ramah. tubuhnya yang tegap membuat orang tersebut terlihat mirip dengan papa hanya saja pria itu memiliki kumis halus dan jambang disekitar wajahnya. rafa ingat orang ini terakhir kali ia melihat om arisandi 2 tahun yang lalu.
rafa menyunggingkan senyum, walaupun tidak ramah tapi setidaknya dia mencoba ramah. seementara anak perempuan tadi langsung membuka pintu begitu melihat mobil arisandi.
" kata papamu kamu datangnya besok " ujar arisandi sambil menepuk bahu rafa pelan. rafa bergeming hanya senyumnya yang sekali lagi diperlihatkan tapi tak kalah kakunya dengan yang tadi  " ayo masuk " tambah  arisandi.
rafa mengikuti arisandi dan anak perempuannya masuk kedalam rumah. rumah arisandi terdiri dari 2 lantai, perabotannya tertata rapi dan disekitar dinding rumah banyak foto keluarga mereka yang tergantung juga beberapa foto om arisandi bersama teman-temannya termasuk sama papa.
 arisandi dan papa memang sudah bersahabat sejak mereka masih sma. rafa ingat dulu papa pernah cerita itu padanya. bahkan salah satu syarat papa membiarkannya kesini adalah ia harus tinggal di rumah om arisandi. walaupun awalnya rafa menolak tapi akhirnya ia menyanggupi karena yang terpenting untuknya adalah pergi sejauh mungkin dari lingkungannya yang memuakkan itu.
“ rafa ini anak om yang paling tua, namanya syira “ arisandi merangkul cewek yang tadi bertemu rafa didepan pintu. syira tersenyum lebar kearah rafa “ anaknya memang sedikit bawel dan galak “ katanya sambil mengacak rambut syira. Syira cemberut memandang ayahnya tapi dengan gaya anak perempuan pada umumnya. manja.
" nah yang cantik itu " arisandi menunjuk wanita cantik yang menuruni tangga sambil tersenyum kearah rafa mungkin umurnya hampir sama dengan mamanya. " itu mantan pacar om, yang sekarang jadi istri om. kamu masih ingat ? "
rafa memicingkan matanya menatap wanita itu lalu menggeleng pelan. ia memang ingat pernah bertemu sama arisandi sebelumnya tapi tidak pada istrinya.
" sudah pa, rafa mungkin capek mau istirahat. perkenalannya nanti saja. iya kan raf ? " wanita itu memandang rafa ramah.
dan seperti biasa rafa cuma bisa tersenyum. ia terlalu malas harus membalas berbagai ucapan basa-basi itu.
arisandi tertawa kecil lalu menepuk keningnya pelan seperti mengingat sesuatu yang sangat penting " aduh om jadi lupa raf, begini nih kalo dosen keasyikan berceramah. suka lupa kalo yang ditemani ngomong mungkin capek. oh iya kamar kamu ada dilantai 2, biar om suruh syira ngantar kamu ke kamar."  arisandi menatap syira. " kamu antar rafa ke kamarnya yah "
syira mengangguk " iya pa "  lalu memberi isyarat pada rafa untuk mengikutinya menaiki tangga
" ini kamar lo " kata syira menunjuk sebuah kamar dihadapan mereka.
" thanks " ucap rafa singkat lalu masuk kedalam kamar. tanpa memperhatikan ekspresi syira yang menatapnya dengan kening berkerut. kamarnya tidak terlalu besar tapi juga tidak kecil, dengan nuansa serba putih yang berasal dari dinding, palfon, dan gorden yang dipasang. untung saja seprei tempat tidurnya bermotif garis-garis biru kalo tidak rafa pasti sudah merasa berada ditengah dunia lain yang serba berwarna putih. sejujurnya rafa benci putih. karena putih hanya mengingatkannya pada masa yang paling menyakitkan dalam hidupnya.
dengan kesal rafa langsung membanting tasnya ke tempat tidur lalu menghempaskan tubuhnya. matanya memandang menerawang ke seluruh penjuru kamar. lalu menghela nafas dalam-dalam.


************

rafa baru saja keluar dari kamar mandi saat suara d'beatles mengalun keras diseluruh kamar. dengan sedikit ragu ia meraih ponselnya yang diletakkan diatas meja kecil samping tempat tidur. begitu melihat nama mamanya tertera dilayar hape ekspresi rafa langsung berubah kaku. alih-alih menerima panggilan telephone itu rafa malah melempar hapenya tepat diatas tempat tidur dengan penuh emosi. hanya ada satu alasan kenapa rafa berada ditempat ini. dan itu semua karena sesuatu yang disebut keluarga. ia membenci mereka semua tanpa terkecuali. tapi nampaknya mereka semua seperti tidak rela membuat hidupnya tenang hingga tidak henti-hentinya terus  menelphone dengan berbagai alasan pada hal bagi rafa itu lebih mirip kalo mereka semua menerornya.
" rafa ada telephone dari mama kamu " suara berat arisandi terdengar dari luar kamarnya diiringi suara ketukan pintu secara berulang-ulang. rafa memutar tubuhnya sejurus dengan pintu namun tanpa gerakan apapun. ia malah menghempaskan tubuhnya ketempat tidur dengan kesal. lalu mulai memutar lagu hingga suara arisandi tertelan suara lagu itu.
" rafaaaa " om arisandi kembali teriak namun tetap tidak ada jawaban dari kamar rafa.
ia tahu rafa belum tidur, arisandi bahkan bisa mendengar dengan jelas pemuda itu sedang memutar lagu dikamarnya yang awalnya sepi. tapi rafa bahkan tak berniat menjawab panggilannya. dengan tatapan nanar arisandi segera turun kebawah untuk menerima panggilan telephone orang tua rafa. ia berusaha menyusun beberapa kalimat yang paling halus diotaknya bagaimana cara memberitahu wirawan soal rafa yang sama sekali tak berniat menerima telephonenya.
" lo rafanya nggak turun pa " widi memperhatikan suaminya yang malah turun sendirian. raut wajahnya aneh, padahal tadi suaminya begitu semangat ingin memberi tahu rafa soal telephone dari ayahnya.
" sudah tidur kayaknya " arisandi menjawab singkat. ia menghela nafas dalam-dalam sebelum berbicara dengan wirawan. ayah rafa.
" halo rafa " wirawan langsung bergumam begitu mendengar desahan nafas dari seberang telephone. hatinya nyaris melambung tinggi begitu tau rafa akan menerima telephonenya. sejak tadi sudah berulang kali dia dan istrinya mencoba menelphone rafa tapi seperti biasa yang menjawab semua panggilannya hanya layanan mesin suara atau suara panjang dengan satu nada tuutt.
" ini aku wir, rafanya sudah tidur, mungkin tadi dia kecapaian soalnya dia baru sampai sore, maklum saja jakarta suka macet " jelas arisandi senatural mungkin. hanya itu alasan yang terlintas difikirannya saat ini. ia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya pada wirawan. Arisandi tau hal itu akan menjadi hal paling menyakitkan untuk sahabatnya.
terjadi jedah beberapa detik " oh begitu yah. nggak papa yang penting dia sudah ada dirumah kamu san " ujar wirawan akhirnya dengan datar. namun arisandi bisa merasakan intonasi suaranya berubah jadi kecewa. ia jadi tidak enak dengan wirawan " san saya titip rafa yah disana, mungkin disana bisa membuatnya jadi lebih baik "
sekali lagi arisandi menghela nafas, tadi sore begitu melihat rafa, ia tahu ada yang aneh sama anak itu, tatapan matanya nyaris datar, bahkan dia belum pernah berbicara padanya sejak datang tadi, tapi ia tidak mungkin mengecewakan wirawan lebih dari ini " pasti wir " kata arisandi walaupun dirinya sendiri ragu apa ia bisa memenuhi permintaan sahabatnya itu.


****************

begitu pagi tiba hal pertama yang akan dilakukan rafa iyalah merombak desain kamarnya. semalaman nuansa warna putih itu hanya membuat kepalanya sakit dan dadanya sesak hingga ia sulit bernafas. karena itu begitu alarm di hapenya bunyi ia langsung melompat dari tempat tidur. mencari handuk dari dalam tas ransel yang isinya bahkan belum sempat di keluarkan sama sekali. walaupun ini bukan rumahnya tapi kamar itu miliknya jadi dia bebas melakukan apapun pada kamar itu. termasuk mengubah warna kamar itu sesuka hatinya.
beberapa menit kemudian rafa tengah menuruni tangga dengan langkahnya yang panjang. dalam hatinya ia terus berharap agar tidak bertemu seorangpun penghuni rumah yang lain. ia benci jika harus menerima ucapan basa-basi dari orang lain. ia benci jika ada orang yang sok baik didepannya. hidupnya sudah terlalu menyusahkan saat ini dan ia tidak perlu membuatnya semakin menyedihkan dengan bertemu  orang baik lainnya. lagi pula ia tidak membutuhkan mereka semua.
" kamu sudah bangun raf. baru aja tante mau manggil kamu dikamar. ayo sarapan dulu " kata widi begitu melihat rafa menuruni tangga. menghancurkan semua harapan dalam hati rafa yang sejak pagi-pagi buta terus ia ucapkan. padahal rafa sudah sengaja bangun pagi agar bisa menghindari keluarga arisandi.
rafa menatap semua penghuni rumah yang tengah berkumpul di meja makan. suasana asing yang sudah tak pernah lagi ia jalani dirumahnya semenjak 2 tahun yang lalu. arisandi memiliki 2 orang anak perempuan. yang bernama syira sepertinya memang hampir seumuran dengannya karena dia juga mengenakan seragam sma dan adiknya masih mengenakan seragam putih biru.
jika harus memilih rafa lebih suka tak ada seorang pun yang menegurnya seperti sekarang ini tapi ini bukan rumahnya yang ia bisa melenggang tanpa memperhatikan suara-suara itu. disini statusnya hanya menumpang jadi bagaimanapun juga dia harus bisa berterima kasih salah satunya dengan cara membalas senyuman widi dan ikut makan bersama keluarga mereka. dengan langkah berat rafa berjalan ke meja makan." makan yang banyak raf " seru arisandi penuh semangat menatap rafa yang kini duduk disampingnya.
" makasih " ucap rafa datar. Entah arisandi bisa merasakan atau tidak yang jelas ia menjawabnya dengan nada enggan.
" nggak usah sungkan begitu raf, anggap saja disini rumah kamu sendiri " tambah widi bermaksud mencairkan kesungkanan rafa.
rafa mendelik kesal. anggap saja ini rumahmu ? jika ia menganggap ini rumahnya maka hidupnya akan kembali berada di neraka seperti sebelum-sebelumnya. rafa mengambil beberapa sendok nasi goreng dihadapannya sebagai formalitas walaupun didalam kepalanya ia hanya ingin cepat-cepat pergi dari meja makan ini.
" rafa rencananya kamu mau masuk ke sma mana ? " arisandi membuka pembicaraan setelah beberapa waktu rafa hanya diam saja.
" belum tau " ujar rafa sambil menyuapkan nasi goreng kemulutnya tanpa minat dengan pembicaraan yang sangat tidak penting ini.
" gimana kalo di sekolah aku aja pa " syira memberi usul." biar syira bisa pergi bareng sama kak rafa " katanya sambil menatap rafa senang " gimana kak ? "
rafa menatap syira lekat
" ide yang bagus itu. biar kalian bisa saling jaga kan lagipula papa juga punya teman baik disana. Dengan sisa sekolah kamu yang hanya tinggal beberapa bulan saja om yakin bagus akan menerima kamu " potong arisandi. matanya berbinar-binar menatap rafa. " kamu setujukan raf ? "
" terserah " kata rafa dengan ekspresi cuek. ia mengalihkan tatapannya ke piring yang ada dihadapannya. tak perduli melihat ekspresi kaku dari semua orang dan untuk beberapa detik suasana kembali hening. semua nampak sibuk dengan fikirannya masing-masing sebelum akhirnya arisandi kembali membuka pembicaraannya.
" oh iya raf om lupa ngasih tau semalam papa kamu nelphone tapi waktu om ke kamar kamu sepertinya kamu sudah tidur " kata arisandi berusaha mencairkan suasana canggung yang membekap mereka semua, ia meneliti setiap ekspresi yang ditunjukkan rafa. namun rafa hanya memandang datar dengan tatapan kosong.
" ooo " rafa berkata sinis lalu meneguk air digelasnya. " saya permisi dulu " pamitnya. tanpa memandang arisandi dan istrinya ia segera berjalan meninggalkan ruang makan.
" dia kenapa pa " tanya widi bingung namun arisandi hanya diam saja memperhatikan rafa yang sudah menghilang.
" kak rafa kok galak si pa " syira ikut menimpali. dari semua cerita papa tentang rafa yang mengatakan kalo rafa itu baik dan menyenangkan sangat bertolak belakang dengan rafa yang ada dihadapannya saat ini. syira memang belum pernah bertemu dengan rafa sebelumnya tapi fiko kakak rafa sering ia lihat jika om wirawan datang ke jakarta karena mereka selalu datang bersama. fiko sangat baik, lucu, dan menyenangkan, ia seperti kakak yang tidak dimiliki syira karena itulah syira senang begitu papanya bilang kalo rafa adik fiko akan tinggal di rumah mereka. kemarin sewaktu rafa menyebutkan nama lengkapnya syira memang ragu apa iya rafa itu seperti fiko.
" sudah..sudah... cepat habiskan sarapannya nanti kalian berdua terlambat ke sekolah " gumam arisandi.
syira dan mika mengangguk berbarengan.






0 komentar:

Post a Comment

My name is indha
this my first blog :D
di blog ini berisi beberapa postingan hasil tulisan saya sendiri dan tugas kuliah..

Template by:

Free Blog Templates